Jumat, 03 September 2021

Book Review: Simple Lie by Nina Ardianti


Akhirnyaaaa...

I finally got this novel.

After a series of curiosity. 

Yes.

Sejak si koronce menyerang negara api, eh.. Kita semua punya hobi baru kan? Dari yang rebahan sampai yang work out sampai langsing.

As I told you, I return to my old hobby.

Reading novels.

Dan I am crazy about Nina Ardianti's novel now.

Aku sudah baca Restart (free download from any sources, hehe), Fly to the sky (beli e-booknya di Google Book), The dating game (Tamat di wattpad dan penasaran menunggu kapan terbitnya), Hapenstane (masih setia menunggu kelanjutannya di wattpad), Meet Cute (Tamat di wattpad-semoga tidak di take down, biar bisa baca terus n terus) dan baru-baru ini mengetahui cerita tentang tentang masa muda si Ilham, yang jadi tokoh utama di Meet Cute, dan tokoh pembantu di Fly To The Sky dan sangat penisirin, sehingga ketemulah sebuah toko buku di tokopedia dan berhasil mendapatkan 1 copy aslinya. Dengan ketas berwarna kekuningan akibat tanggal cetak yang sudah melampaui batas ambang warna putih, hehehe..

Let's get back to the novel


So,

dari Meet Cute, aku mulai mengenal tokoh si Ilham ini. Yang digambarkan sebagai seorang yang super cakep dan super baik hari. Dari Fly to the Sky, Ilham di gambarkan sebagai seorang kakak yang super perhatian. So, aku menyimpulkan, Ilham adalah sesosok yang super. Semuanya positif.

Dan aku sangat berharap akan mendapatkan Ilham yang ga jauh-jauh amat dari penggambaran Nina di semua novel yang sudah kubaca.

Tapiiii.....

Well, aku sedikit berbeda me-review novel ini ya?
Terserah aku dong, hihihi..

Kalau pembaca yang lain lebih menyorot Rere, si tokoh utamanya, aku lebih melihat Ilhamnya, karena, well, rasa penasaranku pada novel-novel sebelumnya.

Well, talking about Rere, aku setuju sama editornya Nina ini. Look-nya aja perfect, tapi dalemnya, we'll never know what's inside someone's heart.

Back to Ilham.

Mungkin karena ini adalah novel awal yang membentuk karakter, Ilham digambarkan sebagai seorang cowok yang cuek, sedikit begal, tetapi care banget. Salah satu yang jadi pertanyaanku setelah membaca bagian akhir novel ini adalah, how come? Bagaimana dia punya pemikiran semacam itu?

Playing victim.

Yes, either Ilham or Rere is playing victim

Kalau Ilham sih bisa di maklumi.

Dia cowok, dia boleh dong punya cara untuk mendekati atau jatuh cinta kepada seorang cewek, which is Rere.


Tapi Rere? Seorang cewek yang 'sempurna', kok bisa-bisanya? 

So, that is the story about.

Lie.

Just because you see someone new, it is not right to 'dramatize' your life. 

Ini nih yang menurutku kek sinetron banget.

Tapi, once again, alur ceritanya itu sangat unpredictable. Yang hanya kita ketahui kalau kiya baca sampai tamat.

Well, can't wait to read any other novels by Nina.



 



 

Minggu, 29 Agustus 2021

Two Bites Brownie


Chapter 1: Neptune's Dine

Neptune's Dine masih sepi ketika rombongan kami tiba pagi ini. Hari ini adalah pagi pertama kami memasuki kantin ini. 
Ian, pemimpin rombongan kami memimpin kami dari hall hotel Northern Illinois University menuju kantin. 
Yap, kami adalah sekelompok pelajar setingkat SMA dari 10 Negara di Asia tenggara yang mengikuti program SEAYLP, semacam program kepemimpian yang membawa 5 orang siswa dan 1 orang guru pendamping dari 10 Negara ASEAN. Dan aku adalah salah satu pesertanya. Bukan sebagai murid, aku adalah guru pendamping bagi 5 siswa dari Indonesia.
Perkenalkan, namaku adalah Yulia, dan ini adalah pengalaman pertamaku menginjakkan kaki di negeri paman Sam, lebih tepatnya lagi, ke luar negeri.
Seorang teman SMA pernah mengatakan,  "paling tidak, kita harus pergi ke luar negeri walaupun hanya sekali. Dan negara yang pertama kali kita tuju adalah Arab saudi, entahbuntuk melaksanakan ibadah haji atau umroh."
Namun, nasib membawa kakiku ke benua Amerika, keluar dari Asia.

Back to Neptune's.
Kami berkeliling Neptune's. Dari pintu masuk, kami diminta mengisi daftar hadir di meja kasir. Karena kami adalah tamu undangan NIU, kami mendapat jatah sarapan dan makan siang di Neptune selama kami tinggal di hotel NIU. 
Setelah mengisi daftar hadir, aku mengedarkan pandangan mataku. Dari tembok sebelah kiri, berurutan dengan pintu masuk, berderet mesin minuman soda, dari pepsi, sprite, es batu, air putih, bahkan es krim!




Ditengah ruangan terdapat  main course  stall yang terdisi dari beberapa bagian, yaitu bagian karbohidrat-dimana kita bisa ketemu nasi, kentang, sosis-sosisan, patty, dan mie; protein, dimana kita bisa mendapatkan ayam panggang, steak, any meat you mention it; sandwich, dimana ada beef burger, chicken burger, dan pizza: dan sea food dimana ada berbagai bahan makanan laut dan sayuran yang di oseng. Disini main course stall ini kita dilayani oleh mahasiswa NIU yang membantu membagikan makanan yang baru matang dari dapur. 
Di depan main course stall terdapat salad stall, dimana kami bisa memilih untuk mengambil salad sayur atau salad buah lengkap dengan berbagai sausnya.
Di belakang main course stall terdapat berbagai minuman hangat, dari teh, sampai kopi. Disitu juga di sediakan berbagai macam susu dan coklat.
Diseberangnya terdapat cereal stall, dimana kita bisa mengambil cereal, membuat toast, atau membuat waffle.
Dan terakhir, adalah meja paling favourite. Dessert table. Ada berbagai buah dan cookies. Selain cookies, mereka mambuat brownie yang enak. Dan ada satu macam cake yang didalamnya terdapat biji-apa ya, saya lupa namanya. Yang konon katanya, kalau kita makan terlalu banyak cake ini, maka darah kita akan mengandung semacam unsur narkoba. Wah, tidak boleh makan cake ini banyak2 ya..

"Assalaamu'alaikum..."
Aku terkejut mendengar seseorang mengucapkan salam. Jelas itu ditujukan padaku. Hanya aku di sekitaran situ yang memakai hijab. Hanya 6 dari 30 peserta perempuan yang memakai hijab. Dan kebetulan aku sendiri disana ketika seseorang mengucapkan salam.
"Wa'alaikumussalam." Jawabku sambil tersenyum. Seorang cowok bule tersenyum kepadaku dengan tangan kanannya berada di dada kirinya.

Subhanallah, sungguh ciptaan Allah yang sangat indah.
Cowok itu mempunyai tinggi rata-rata bule. Jauh diatas rata-rata pria Asia. Kulitnya putih bersih dibungkus kemeja flanel berwarna biru sungguh kontras. Sedap dipandang. Dengan rambut yang masih basah, menghiasi wajahnya yang tampan. Matanya coklat, hipnotizing. Mata yang indah. 

"I can guess you are from Indonesia." Tebak dia.
It surprises me again.
"How do you know?" Tanyaku heran.
"Well, seeing how you wear your hijab, it is different from your other friends," jelas dia.
"Oh. I have no idea of it,"
Diantara 30 peserta perempuan, hanya 6 dari kami yang memakai hijab. 3 orang dari Indonesia, dan 3 orang dari Brunei Darusaalam. Dan ya, jelas hijab style kedua negara ini berbeda.
"Hi, I'm Brian"
"Oh, hi Brian. I'm Yulia."
"So, Yulia. How was your sleep? Did you get a good rest?"
"I did. I slept soundly last night."
"That's good. I'm gonna get some coffee. Do you want some?"
"No, I'm fine, thank you. I haven't decided what to drink. I think I'll get some salad."
"Ok, see you around."
"Bye."

***

Chapter 2: NIU Visiting Scholar




Selesai sarapan, Ian membawa kami ke South East Asian Centre, markas besar panitia penyelenggara SEAYLP. Ian, mahasiswa NIU jurusan komunikasi yang berasal dari Myanmar, memandu kami seolah tour guide yang menjelaskan gedung-gedung di yang kami lewati. 

Dan ya, it was a cultural shock bagi kami yang berasal dari Indonesia. Entah mereka yang berasal dari negara lain.

Neptune terletak di dalam gedung asrama, dan kami harus keluar dan berjalan seoanjang, mungkin satu atau dua kilometer ke South East Asian Centre, yang mereka sebut Centre. 
On foot. 
No vehicle. 

Dengan perut yang penuh dengan berbagai makanan dan minuman, kami harus berjalan dengan jarak yang lumayan menguras tenaga.
Untungnya, bulan April di Illinois adalah akhir musim dingin dan awal nusim semi, yang meskipun telah banyak tumbuh berbagai tanaman bunga, tetapi masih menyisakan suhunya yang hanya berada di kisaran belasan derajat celcius, sehingga kami tidak basah oleh keringat.
Tiba di Centre, kami di bawa berkeliling dan dikenalkan kepada staf mereka. Dan seorang cowok yang sedang membawa kamera menyita perhatianku.

"Hi, We finally meet again," sapanya.
"Hey, You are here! So, are you taking care of us?"
"Sort of." Katanya sambil tersenyum. 
"Glad to know that." 

Aku harus melanjutkan mengikutin tour Ian dan dia melanjutkan mengambil gambar kegiatan kami. 
Setelah berkeliling, kamu dikumpulkan di halaman centre untuk briefing dan menerima kit selama kami berada di USA. 
Panitia juga membagikan rice cooker dan beras-mereka sangat paham bahwa kami tidak bisa meninggalkan nasi-untuk di makan saat makan malam. Mereka juga meminjamkan jaket bagi peserta yang kurang membawa persiapan. Sungguh panitia yang sangat siap. 

Brian bertugas membawakan barang-barang tadi ke hotel dengan menggunakan sebuah mobil pick up.
Selesai briefing, Ian kembali membawa kami berjalan menuju gedung perpustakaan yang leraknya tepat di seberang hotel dimana kami menginap, sehingga kami harus kembali berjalan berkilo-kilo meter.
Anak-anak yang mulai mengenal teman-teman dari negara ASEAN lainnya terlihat gembira dan berbaur. Saling mengenalkan diri dan bersenda gurau.

Kami, para pembimbing, juga mulai mengenal satu salam lain. Teman sekamarku, Miss Farah, adalah seorang muslim. Dia berasal dari Brunei Darussalam. Dia juga memakai hijab. Dan kami cepat sekali akrab sehingga saling memberikan nick name. Dia memanggilku 'Embak Yul' dan aku memanggilnya 'Ummi Billah'. Bahkan dia sempat menawariku pekerjaan sebagai guru di Brunei dengan gaji yang jauh lebih tinggi dari guru di Indonesia.
Tapi maaf, Ummu Billah, saya masih cinta NKRI.

Sampai di perpustakaan, kami segera didaftarkan untuk mendapatkan NIU Visiting Scholar Card. Ini adalah semacam ID card yang dapat digunakan untuk meminjam buku diperpustakaan,  naik bis kota secara gratis, bahkan asuransi kesehatan dan jiwa selama kegiatan. Dan seperti halnya di Neptune's terlihat beberapa mahasiswa bekerja membantu proses input data sampai pemotretan ID card kami. 
Ternyata para mahasiswa di AS juga magang, atau bekerja paruh waktu untuk memenuhi kebutuhan mereka. Pendidikan tinggi di AS sangatlah mahal, sehingga banyak mahasiswa yang berusaha mendapatkan bea siswa dan  harus bekerja paruh waktu di sela-sela padatnya jadwal mereka.

Tidak butuh waktu lama bagi kami untuk mendapatkan ID card kami. Dan segera setelahnya, kami dipersilakan kembali ke kamar dan pergi makan siang pada pukul 12:00.

to be continued ...


KAKI

Pagi itu, disaat langit masih gelap, seperti biasanya, Bubu dan Ayah pergi berolah raga di lapangan sepakbola di ujung kampung. Hujan lebat ...